Kearifan Media Jepang Sikapi Bencana

Penulis : Rohman Budijanto

Sumber : Jawa Pos, Sabtu, 24 Maret 2012

 

Maap , bukannya gak kreatif guys, berhubung artikel ini ciamik untuk di tulis maka saya adopsi, check this out  (scenic)

Bencana gempa, tsunami,dan kebocoran nuklir di Jepang pada 11 Maret (3/11) tahun lalu menebarkan standar baru pemberitaan. Media-media disana, media cetak khususnya tidak memuat foto-foto mayat korban bencana. Kearifan media Jepang itu menjadi bahan diskusi hangat di Tokyo  :-))

“Biasanya dalam pemberitaan sedapat mungkin di tampilkan sejujurnya fakta-fakta telanjang  :-&. Termasuk foto-foto, tetapi dalam pemberitaan bencana, kami belajar bahwa fakta-fakta telanjang itu layak diberi busana yang pantas berupa empati yang kuat ”

Ungkapan itu disampaikan ROHMAN BUDIJANTO, wartawan senior Jawa Pos, ketika menjadi salah seorang panelis disimposium jurnalis iternasional di markas Japan International Coorperation Agency (JICA). Simposium tersebut membahas bencana 3/11 dan peran media dari perspektif media Jepang dan media asing.

Absennya foto mayat dari media Jepang itu mendapat apresiasi luas dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Saat kabar-kabar drama tsunami berlanjut insiden nuklir, yang ditampilkan adalah kerusakan yang parah dan ledakan situs pembangkit listrik nuklir. Ternyata tenpa menampilkan “fakta telanjang” berupa mayat-mayat korban, hebatnya bencana tersebut sudah tersampaikan dan mengundang empati seluruh dunia. Korban tewas dalam tsunami itu sekitar 20 ribu jiwa.

Hiroshi Fuse, senior editor Mainchi Shimbun (koran tertua di Jepang, terbit sejak 1872), menyebutkan, sikap media cetak di Jepang seperti itu dimaksudkan untuk mengahrgai kepekaan kultural. Masyarakat tidak suka apabila mayat ditampilkan di media karena bisa mengganggu perasaan keluarga.

“Karena itulah, ada kesepakatan tidak tertulis untuk tidak meampilkan mayat,” kata Fuse yang menjadi moderator simposium. Bagi mantan koreponden di Kairo dan Washington itu, memberi tahu pembaca bahwa terjadi bencana besar tak perlu dengan menampilkan foto-foto mayat. Foto-foto kerusakan yang di ambilsudut pandang kreatif bisa memberikan pesan simpati yang kuat  (bigeyes). Namun,dia menyatakan bahwa ada kalanya menampilkan mayat tak bisa terhindarkan. Tapi, dia mengingatkan, yang perlu di jaga adalah taste atau selera cara menampilkan. “Kami tak mungkin menampilkan mayat termutilasi atau gambar anggota badan korba,” tandas Brogan.

 

menurut saya bener juga sih, karena yang kita tahu media Indonesia hobi banget menampilkan gambar-gambar mayat yang bergelekan, katanya sih masyarakat suka yang ekstrem-ekstrem  (hassle)