Desa Sade (Backpacker ke Lombok Part 3)

aaakkhhh, sudah lama banget tidak melanjutkan tulisan setelah tulisan tentang gili trawangan, oke tanpa basa basi yuk, check it out..

yup, walaupun sebelumnya tulisan saya sudah dimuat di wegonesia http://www.wego.co.id/berita/desa-sade-eksotisme-ditengah-modernisasi/ tapi ya buat koleksi blog sah sah aja kan  B-)

Masih banyak tempat seru yang harus kalian kunjungi di Lombok selain bermain air di Gili Trawangan. Salah satunya adalah Desa Sade, tempat bermukim salah satu etnis Suku Sasak. Saya memacu motor sewaan seharga Rp 45.000 per hari untuk menuju tempat ini. Awalnya saya membayangkan harus melewati hutan panjaaang dan jalannya sulit dijangkau kendaraan. Namun ternyata saya salah, desa tersebut berada di pinggir jalan besar arah ke Pantai Kuta Lombok. Lokasi desa ini mudah ditemukan karena sudah terkenal sebagai lokasi wisata.

IMG_1512
Desa Sade mudah dicari

Sebagian besar warga berprofresi sebagai pedagang kain tenun. Saat memarkir motor, saya disambut guide yang merupakan warga Desa Sade itu sendiri. Sang guide tidak memasang tarif tertentu melainkan seikhlasnya. Karena minimnya pendidikan di desa ini, hanya segelintir saja pemuda yang bisa berbahasa Indonesia. Itupun hanya yang tamatan SMA. Saat memasuki gapura desa, saya diminta mengisi buku tamu terlebih dahulu. Setelah itu barulahguide bercerita tentang Desa Sade. Lorong pertama sampai akhir kita akan bertemu para pengrajin kain tenun khas Desa Sade. Harganya memang agak mahal, namun semua dibuat sendiri menggunakan alat tradisional.

Masih Tradisional Loh :D
Masih Tradisional Loh 😀
Adik adik di Sade sedang memperagakan tarian mereka
Adik adik di Sade sedang memperagakan tarian mereka

Saat diantar guide menuju lorong-lorong Desa Sade, saya disambut senyum ramah para warga. Saya mengamati satu per satu rumah yang dilewati, dan guide pun berkata bahwa beberapa diantaranya terdapat gubuk untuk berbulan madu. Mendengar hal tersebut saya merasa tergelitik dan menahan tawa. Atap rumah mereka terbuat dari alang-alang, dan dengan lantai yang dibiarkan dari tanah yang diolesi kotoran kerbau. Mungkin terdengar menjijikan, tapi di situlah letak kesetiaan mereka untuk menjaga adat yang diturunkan dari leluhur.

Di tengah modernisasi dunia, warga desa ini masih menjaga adat istiadatnya dengan teguh, mulai dari rumah hingga kesehariannya. Menurut saya, desa ini bukan kuno, namun eksotis.

Warna Warni Tenun Desa Sade
Warna Warni Tenun Desa Sade

Di akhir perjalanan, saya memutuskan untuk membeli selimut tenun yang rasanya nyaman sekali. Untuk menjelajahi setiap sudut lorong di Desa Sade hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Jadi, jangan sia-siakan perjalanan kalian dengan hanya melihat-lihat. Sekali-sekali mencoba menenun, why not?

Salam traveling, kawan! 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *